yang maw aq share kali ini cerita tentang kejadian yang di alami seorang anak pada 2
tahun yang lalu. Yaitu pada ia masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Tepat
pada hari ulangtahunnya yang ke 13, tanggal 19 September 2010.
brikut Ulasannya..!!
*kriiinggg* bunyi alarm dari handphone ku membanguni tidurku yang
sangat pulas itu. Aku segera bangkit dari tidurku dan segera merapikan
tempat tidurku. Niat ku pagi itu bukannya bergegas pergi ke sekolah
dengan cepat, tetapi aku ingin menonton film Spongebob dulu. Astagaaa,
ada sesuatu yang kulupakan! “Hari ini hari ulangtahunku!” kataku dalam
hati. Tapi… Aku juga ingat bahwa hari ini adalah hari selasa. Hari ini
ada pelajaran Sejarah. Aku membatalkan niatku untuk menonton. Aku segera
menyusun roster, lalu aku bergegas mandi. Aku tidak boleh
bermalas-malasan pagi ini. Aku bisa di hukum ibu Silitonga kalau aku
terlambat. Daannn semua tau kalu beliau adalah guru terkiller di SMP
Sultan Agung. Apalagi catatan terlambatku sudah terhitung 2 kali. Aku
tidak mau terlambat untuk ketiga kalinya. Bisa-bisa aku pasti di suruh
ibu itu untuk berlari mengelilingi lapangan, dan di suruh untuk berdiri
di pos satpam. “oh Tuhan, jangan sampai itu terjadi” bisikku dalam hati.
Saat akan berangkat dari sekolah, ibuku dan ayahku mengucapkan
selamat ulangtahun kepadaku. Dan yaaa! Aku sangat senang karena mereka
adalah orang pertama. Memang begitulah setiap tahunnya. Mereka memang
yang pertama. Dan aku sangat menyayangi mereka berdua.
Sesampainya di sekolah..
Aku tiba di gerbang sekolah, saat aku masuk aku melihat jam di pos
satpam. Jam menunjukkan pukul 07:03. Dan aku tidak terlambat hari ini.
Aku sangat senang, aku segera berjalan cepat lalu menaiki tangga menuju
kekelasku. Sesampainya di kelas, aku melihat seluruh teman-temanku sibuk
menulis. “apaya yang mereka kerjakan? emangnya ada PR ya?” ujarku. Saat
aku duduk dan meletakkan tasku, aku bertanya pada teman sebangku ku,
Yohana. “Yo, kamu ngerjain apa? ada pr ya?” tanyaku. “ya ampun non, ini
catatan sejarah minggu lalu yang di suruh ibu Silitonga untuk di
ringkas. kamu udah selesai?” balas Yohana. “oh yang itu, aku udah
selesaikan dari minggu lalu. rasain! siapa suruh minggu lalu kamu
ngobrol-ngobrol” ejekku. “kurang ajar kamu non, bukannya ngebantu malah
ngejek” sambil memukul kecil pundakku.
Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa kelas akan segera di mulai.
Dengan santainya aku mengeluarkan buku pelajaran dan alat tulisku dan
segera meletakkannya di meja. Sementara temanku yang lain kucar-kacir
karena ibu Silitonga sudah tiba di kelas. Ibu itu meletakkan tasnya, dan
dia duduk dibangkunya. “oke, minggu lalu ibu sudah menjelaskan kepada
kalian tentang bab 5. Dan ibu harap kalian sudah meringkasnya”. Suasana
pada saat itu sangat hening. “non gimana nih? catatanku belum selesai,
masih setengah” bisik Yohana. “udah yo, berdoa saja semoga ibu itu gak
ngeliat catatan kamu sampe abis” ujarku sembari menenangkan perasaannya.
“anak-anak, kamu lihat pada bab 5, ada latihan evaluasi. ibu akan
memanggil satu persatu untuk menjawab bagian esainya didepan kelas.
Jangan lupa antarkan catatan nya kemari.” kata ibu itu. Aku sangat
jantungan, tanganku dingin sekali.
“Nona, maju ke depan, bawa catatan dan buku paket kamu!”. Ibu
Silitonga mengejutkan ku. “sekarang, kamu jawab soal-soal esay itu
secara lisan. ayo!” perintahnya. Betapa takutnya aku karena pertanyaan
nomor 4 dan 5 tidak bisa ku jawab. “loh! kenapa diam? ayo lanjutkan!”
ujar ibu itu. “saya tidak tahu bu..” jawabku. Ibu itu mencubit lenganku
lalu menyuruhku untuk berdiri di atas bangku. Kejadian ini bukan hanya
terjadi pada ku, tetapi juga terjadi pada sebagian teman-temanku.
Termasuk Yohana, May, Adzra dan Feby yang tak lain adalah sahabat
karibku. Kami saling memandang satu sama lain, sambil melemparkan
senyuman.
Bel istirahat berdering. Aku segera mengajak Yohana untuk ke kantin.
“yo, ke kantin yuk” ajakku. “ah males non, kamu aja deh sendiri”
jawabnya dengan muka asam. “yohana kenapa ya? kayaknya aku gak ada buat
salah deh. kok dia agak kasar gitu? Biasanya dia tidak seperti ini. Aku
mengajak May, Adzra, dan Feby. Tetapi ketiganya juga begitu. Aku semakin
bingung.
Hari ini aku sangat sedih. Alasannya karena teman-temanku cuek sekali
denganku, dan bahkan mereka tidak ingat hari ini adalah ulangtahunku.
Aku betul-betul kecewa. Selama pelajaran, aku hanya diam tanpa
melontarkan sepatah katapun. Aku tidak ada berbicara dengan Yohana, dan
diapun tidak melakukan hal yang sama. Perasaanku semakin kecewa, sedih
bercampur marah.
Setibanya pulang sekolah, aku mengajak temanku May untuk pulang sama
karena rumahku dan rumahnya searah. Dan setiap harinya kami selalu
pulang sama. “May, ayo pulang.” ajakku. “kamu sendiri aja ya non,
soalnya aku mau pergi makan bakso sama Feby dan Adzra” jawabnya. Ku
lihat Yohana sudah pulang duluan. Dan yaaa.. Aku akan pulang sendiri.
Sebenarnya aku gak mau mengingatkan mereka kalau hari ini
ulangtahunku. Aku takut di bilang over PD. Jadi aku hanya diam aja,
walaupun aku berharap ada seseorang yang mengucapkannya padaku.
Aku tidak sabar untuk berbaring di kasurku, dan segera tidur untuk
menyegarkan otakku dan melupakan semua kejadian hari ini. Hari ini
adalah hari yang menyebalkan. Bukan malah keceriaan yang aku dapat,
tetapi kekecewaan. “Ya sudah lah. Apa gunanya kusesali, aku juga gak
perlu ucapan dari mereka kok”. Bisikku dalam hati.
Akhirnya aku sampai di rumah, aku langsung meletakkan tasku, menukar
pakaian dan mencuci muka. Aku segera menyantap masakan ibuku, karena
memang aku sangat lapar. Setelah itu aku bergegas menuju kamar, tempat
yang sangat pribadi bagiku. Aku segera merentangkan badanku di kasur.
Yaa.. Aku segera tidur siang. Apalagi yang harus kulakukan selaiiinn…
yaaa tidur siang.
Tanpa terasa aku bangun dari tidurku pada pukul 5 sore. Aku bergegas
mandi. Dan.. Perasaanku sudah mulai membaik. Setidaknya otakku sudah
lebih fresh ketimbang tadi siang. Aku melanjutkan kegiatanku seperti
mencuci piring dan mengerjakan pr. Aku menyelesaikan semuanya sampai
pukul 7 malam. Hidupku terasa sangat garing hari ini. Seharusnya ini
adalah hari yang spesial untukku, tapi mereka benar-benar lupa denganku.
Perasaanku sangat sedih sekali. Entah bagaimana aku mengungkapkannya.
Memang tampaknya cuaca malam ini tidak mendukung. Dimana hujan
gerimis menemani malamku yang sunyi. *tok tok tok* suara itu terdengar
dari jendelaku. Awalnya aku menanggapi biasa saja. Tapi yang kedua
kalinya aku mulai merasa curiga dan mulai timbullah perasaan takut.
Jangan jangaann… *tok tok tok tok* aku sudah sangat ketakutan. “ya Tuhan
aku takut sekali. siapa sih itu. jangan bilang itu setan” bisikku dalam
hati. Dengan perasaan gelisah aku keluar dari kamar dan memanggil
adikku untuk melihat kejendela. “Dik, kakak minta tolong, bukain dong
jendela kamar kakak. Dari tadi ada yang ngetuk-ngetuk gak jelas gitu”
ajakku. Kemudian adikku masuk kekamarku dan membukakan jendela ditemani
oleh aku dibelakangnya.
Dan ternyataaa… *Daaarrr* aku melihat temanku Yohana, May, Adzra,
Feby membawa kue tar yang lumayan besar, berhiaskan lilin-lilin
diatasnya dan ucapan selamat ulangtahun. Aku sangat senang. Seketika
perasaan kecewa ku berubah menjadi kebahagiaan. Mereka menyanyikan lagu
selamat ulangtahun, lalu mereka menyuruhku berdoa untuk meminta
permohonan kepada Tuhan sebelum aku meniup lilin-lilin itu. Setelah aku
berdoa, aku segera meniup lilinnya lewat jendela.
“Teman-teman, ayo masuk ke dalam. Di luar gerimis, lho!” ajakku. Aku
membawa mereka ke ruang tamu, aku menyuguhkan teh manis untuk di minum
oleh mereka. Aku memotong kuenya, lalu mereka secara bergiliran
menyuapiku. “makasih ya teman-teman, aku kira kalian lupa dengan
ulangtahunku” ujarku. “Mana mungkin non, kita kan teman kamu. Mana
mungkin kita lupa” jawab Adzra. “Ngomong-ngomong kalian pulangnya
gimana? udah malam lho” tanyaku bingung. “udah non, tenang aja. Ntar
mamanya Yohana jeput kita dan antar kita ke rumah masing-masing. Lagian
kita juga udah permisi kok sama ortu” jawab Feby menenangkanku. Kami
makan bersama, berbincang-bincang hingga tak terasa jam sudah
menunjukkan pukul 11 malam.
“non, kayaknya kita udah harus pulang deh” kata May. Terus aku jawab
“kalian tidur di rumah aku aja, besok kita sama-sama gak usah hadir ke
sekolah” jawabku. “hahaha mana bisa non, bisa dimarahin aku kalo gak
pulang” jawab Feby. Yohana menelpon mamanya, dan dalam 20 menit kemudian
mobil papa dan mama yohana udah tiba. Aku mengantarkan mereka kedepan
halaman rumahku. Mereka berempat mengambil kado mereka masing-masing
yang telah di bawa oleh mama Yohana. “Ini non, masing-masing dari kami
punya kado buat kamu. Maaf ya ngasihnya baru sekarang, soalnya tadi aku
nyuruh mama aku buat bungkusinnya” kata Yohana. “oh gitu, makasih ya
Yohana, May, Feby, Adzra” jawabku kepada mereka semua. Dalam sekejap aku
mendapatkan 4 kado yang ukurannya lumayan besar. “Jangan nilai dari
harganya ya non” kata May. “pasti may, tenang aja” jawabku. “kalau
begitu kami pamit. Sampai jumpa besok disekolah ya Non.” Kata mereka.
Sepulangnya mereka, aku membuka satu persatu bungkusan kadonya.
Pertama aku membuka kado dari Feby, dia ngasih boneka laba-laba warna
kuning. Bonekanya sangat lucu. Kedua, aku membuka kado dari Yohana, dia
ngasih aku novel yang kayaknya ceritanya bagus. Judulnya “cinta mati”.
Ketiga, aku membuka kado dari Adzra, dia ngasih aku tas yang cantik,
berwarna cokelat. Dan yang keempat adalah kado teristimewa dari May. Dia
ngasih sebuah scrapbook atau buku tempel yang asli buatan tangannya
sendiri. Isinya sangat menarik. Isinya tentang aku dan dia. Semua cerita
yang kami alami, dan foto-foto kami berdua ada didalamnya. Di hias
dengan warna warni kertas dan tinta didalamnya. Aku tau, dia membuat
buku ini bukan dalam waktu yang sebentar. Dan di halaman terakhir dia
menulis sebuah surat kecil yang membuatku terharu dan menitikkan air
mata. Isinya :
Dear Nona…
Bertambah usia, artinya berkuranglah jatah hidup ini. Tetapi itu tidak
mengurangi eratnya persahabatan ini. Bahkan seiring berjalannya waktu,
persahabatan kita terasa semakin kokoh dan menyenangkan.
Nona, semoga Tuhan memberimu umur panjang yang penuh dengan manfaat dan kebaikan.
Nona, aku menyayangimu setiap hari. Ku harap kau bisa melihat sendiri
caraku melihatmu. Dan di atas itu semua, Aku ingin hidup mu bahagia.
Kebahagiaanku adalah dimana saat aku melihat sahabatku bahagia. Kita
berdua tidak sempurna. Aku menutupi kekuranganmu dan kuharap kau
sebaliknya. Aku akan menjadi sahabatmu selamanya. Selamat ulangtahun
Nona..
No comments:
Post a Comment